Anak berkerudung Merah (Little Red Riding Hood) - Bagian 2


Kisah Anak Berkerudung Merah, bagian 2 (A Tale of Little Red Riding Hood, part 2)

In part 1, we met a girl whom everyone called Little Red Riding Hood and watched her head off to Grandma’s house with a basket of freshly baked goodies. Along the way, she was approached by a stranger, named Wolfie, who looked suspiciously like a wolf. As Part 2 begins, Wolfie has reached Grandma’s house ahead of the girl. He enters the house and does who knows what. What are your thoughts about Wolfie? Do you trust him?

Pada bagian 1, kita bertemu dengan seorang anak gadis yang dijuluki Anak Berkerudung Merah dan kita melihatnya berangkat ke rumah neneknya dengan satu keranjang penuh kue yang baru saja dipanggang. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan orang asing bernama Wolfie, yang terlihat sangat menyerupai serigala. Pada awal bagian 2, Wolfie berangkat untuk tiba di rumah nenek lebih awal dari si Kerudung Merah. Dia memasuki rumah dan melakukan hal yang tidak diketahui. Apa menurutmu mengenai Wolfie? Apakah kamu mempercayainya?

Now, just before noon, the girl arrives at Grandma’s House. She knocks and says, “Grandma, it is I, Little Red Riding Hood. I’ve brought you a basket full of goodies as you requested. May I enter?

“Do come in,” came a voice from inside the House.

Dan sekarang, sesaat sebelum siang hari, si kerudung merah tiba di rumah Nenek. Dia mengetuk pintu dan berkata, “Nenek, ini saya, si Kecil Kerudung Merah. Saya membawakanmu satu keranjang penuh dengan kue sesuai permintaanmu. Boleh saya masuk?

“Ya masuk saja,” terdengar suara dari dalam rumah.

As the girl entered the House, she stopped and stared. Standing there was Wolfie, whom she had met on the path. Suddenly she realized that Wolfie is a wolf. She assumed he had probably eaten Grandma and was waiting to eat her next.

Saat si Kerudung Merah masuk ke dalam rumah, dia berhenti dan membelalakan mata. Di sana berdiri Wolfie yang dia temui sebelumnya di jalan. Kemudian si Kerudung Merah menyadari bahwa Wolfie merupakan seekor serigala. Dia menanggap Wolfie kemungkinan telah memakan sang Nenek dan akan memakan diirinya berikutnya.

She became hysterical and screamed: “YOU! What are you doing here? Where is Grandma? Have you eaten her? You, beast!”

Dia menjadi histeris dan berteriak: “KAMU! Apa yang kamu lakukan di sini? Di mana Nenek? Apakah kamu telah memakannya? Kamu, binatang!”

Just then, Grandma stepped into the room. “What is going on in here? Why is there all of this screeching? Little Red Riding Hood, my dear, why are you screaming at Mr. Wolfe?”

Lalu Nenek masuk ke dalam ruangan. “Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada yang berteriak? Si Kecil Kerudung Merah, sayangku, kenapa kamu berteriak terhadap Tuan Wolfie?”

“Oh, Grandma, I’m so happy to see you alive. When I found Mr. Wolfe waiting here, I assumed he had eaten you and I was next.”

“Oh, Nenek, saya sangat senang melihatmu masih hidup. Ketika aku melihat Tuan Wolfe menunggu di sini, aku mengira dia telah memakanmu dan akan memangsaku berikutnya.”

“Don’t be silly, child,” scolded Grandma. ”Mr. Wolfe is a client of mine. I invited him here to meet you. I‘m a matchmaker. People come to me to help them find their perfect mate. When Mr. Wolfe described his perfect mate I immediately thought of you.”

“Jangan konyol, anak kecil,” omel sang Nenek. “Tuan Wolfie merupakan klien Nenek. Nenek mengundangnya untuk bertemu denganmu. Nenek seorang pencari jodoh. Orang-orang mengunjungi Nenek untuk membantu mereka mencari pasangan yang sempurna. Ketika Tuan Wolfie menjelaskan pasangan yang sempurna baginya, Nenek langsung teringat dengan dirimu.”

“WHAT? You invited me here so you can marry me off to Mr. Wolfe? I don’t even know Mr. Wolfe. I want to marry for love, not because I match someone’s checklist.”

“APA? Kamu mengundangku untuk menikahkanku kepada Tuan Wolfie? Saya bahkan tidak mengenalnya. Saya hanya mau menikah karena cinta, bukan karena saya cocok berdasarkan daftar seseorang.”

“I’m sorry, Little Red Riding Hood. We’ve gotten off to a bad start,” said Wolfie. “May we start over? My given name is Harry Wolfe. I don’t like that name because it sounds like ‘hairy wolf’. That’s why I ask people to call me Wolfie.”

“Maafkan saya, si Kecil Kerudung merah. Kita sudah salah paham dari awal, kata Wolfie. “Mari kita mulai lagi dari awal? Nama saya adalah Harry Wolfe. Saya tidak suka nama tersebut karena terdengar seperti ‘hairy wolf’ [serigala berbulu]. Itulah mengapa saya meminta orang memanggil saya Wolfie.”

Little Red Riding Hood took a deep breath to calm herself. “Nice to meet you, Wolfie. I’m sorry I assumed you were a grandma-eating wolf. I may have read too many fairy tales as a kid. My real name is Amy Brown. I recall a Harry Wolfe in my elementary classes. He always called me The Hood. Secretly, I had a crush on him. He moved away. I never heard from him again.”

Si Kecil Kerudung merah menarik napas untuk menenangkan dirinya. “Saya senang bertemu denganmu, Wolfie. Maafkan saya mengira kamu merupakan serigala pemangsa nenek. Saya mungkin telah membaca terlalu banyak cerita dongeng saat kecil. Nama saya Amy Brown. Saya ingat seseorang bernama Harry Wolfe saat di Sekolah Dasar. Dia selalu memanggil saya Si Kerudung. Sebenarnya diam-diam saya juga menyukainya. Saya sudah lama tidak melihatnya.”

“Young Harry Wolfe grew up to be me. If you can spare the time, I will explain how I came to look the way I do.” 

Just then, the front door burst open with a loud bang. In stepped a woodsman brandishing a sharp axe. “Don’t move, you big, bad wolf. I am here to dispatch you with my mighty axe. Prepare to meet your maker.

“Harry Wolfe muda tumbuh dewasa menjadi saya. Apabila kamu bisa meluangkan waktumu, saya akan menjelaskan kenapa saya berubah menjadi seperti ini.”

Tiba-tiba pintu depan terbuka dengan keras. Seorang tukang kayu yang membawa sebuah kapak tajam masuk ke dalam rumah. “Jangan bergerak kamu serigala besar yang jahat. Saya akan segera membereskanmu dengan kapak kokoh ini. Bersiaplah untuk bertemu dengan Penciptamu.

“LARRY WOODS! Put that axe down, immediately”, demanded Grandma. “How dare you barge into my house waving your axe around and threatening my client, Mr. Wolfe?” 

“I’m sorry, Grandma, but I heard a wolf had been spotted entering your house. I rushed right over to save you from the jaws of this hairy beast.” Larry looked around and spotted Little Red Riding Hood in the room. “Hi, Red, I didn’t know you were here. Are you okay?’

“LARRY WOODS! Letakan kapak itu segera”, teriak Nenek. “Beraninya kamu menerobos ke dalam rumah saya sambil mengayunkan kapakmu dan mengancam klienku, Tuan Wolfe?”

“Maafkan saya, Nenek, tapi saya mendengar seekor serigala terlihat telah masuk ke dalam rumahmu. Saya segera lari kemari untuk menyelamatkanmu dari rahang monster berbulu.” Larry melihat sekeliling dan mendapati ada si Kecil Berkerudung Merah di dalam ruangan. “Halo si Merah, saya tidak tahu kalau kamu ada di sini. Apakah kamu baik-baik saja?”

“Larry, do you remember a boy, back in our early school years, named Harry Wolfe?” 

“Oh, yeah! Harry and I were buddies. He used to invite me to his house to play with him and his LEGO bricks after school. I thought we would be best friends for life. Then, one day, he disappeared. His whole family moved away. I never heard from him ever again.”

“Larry, apakah kamu ingat dengan seorang anak laki-laki saat kita bersekolah dulu yang bernama Harry Wolfe?”

“Oh ya! Harry dan saya merupakan teman. Dia sering mengundang saya ke rumahnya untuk bermain dengannya dan LEGO miliknya seusai sekolah. Saya dulu beranggapan kita adalah teman baik selamanya. Tetapi suatu hari, dia menghilang. Dia dan keluarganya pindah. Saya tidak pernah mendapat kabar darinya lagi.”

“Little Harry grew up to become the Mr. Wolfe you see standing here.” 

“No way. Harry looked nothing like a wolf when he was a kid.” 

“Wolfie was just about to explain what happened to him. Sit over there, next to Grandma. Go ahead Wolfie, we are all ready to hear your story.”

“Si Kecil Harry berkembang dewasa menjadi Tuan Wolfe yang sedang berdiri di sini.”

“idak mungkin. Harry tidak terlihat seperti seekor serigala ketika dia masih kecil.”

“Wolfie baru saja akan menjelaskan apa yang terjadi dengannya. Duduklah di sana, di sebelah Nenek. Wolfie silahkan melanjutkan, kamu semua siap mendengarkan ceritamu.”

This ends part 2 of our story. What ideas do you have about what happened to little Harry Wolfe. Is Wolfie telling the truth when he says he is the adult version of Harry Wolfe? Or is he about to eat all three of these people? Write your thoughts in the comments below. I will review them as I write the next chapter. Sometimes I include reader suggestions in my stories.

Ini mengakhiri bagian ke-2 dari cerita ini. Apakah kamu memiliki ide apa yang terjadi dengan si kecil Harry Wolfe? Apakah Wolfie mengatakan yang sejujurnya ketika dia mengatakan secara jujur bahwa dirinya adalah versi dewasa dari Harry Wolfe? Atau dia akan memangsa tiga orang ini? Tuliskanlah apa yang kamu pikirkan pada bagian komentar di bawah. Saya akan membacanya saat saya menuliskan bab berikutnya. Terkadang saya mengikutsertakan usulan pembaca pada cerita-cerita saya.


Note:

Foto-foto pada artikel ini merupakan hak cipta dari pemiliknya Alex Dunbar. Isi cerita merupakan karya Alex Dunbar. Terjemahan oleh Iwan Budiman. Dilarang untuk menggunakan, mereproduksi atau menerbitkan ulang tanpa seijin dari pemilik hasil karya ini. Apabila anda hendak memosting ulang, setidaknya berikan kredit terhadap pemilik foto dan juga artikel ini dalam bentuk referensi.

The photos on this article belong to its owner Alex Dunbar. The story on this article belongs to Alex Dunbar. Translation by Iwan Budiman. It is forbidden to use, reproduce or republish without the consent of its respective owners. If you want to repost, at least give credit to the owner of the photos and the article through citation.


Previous
Previous

Set Baru LEGO 10298 VESPA 125

Next
Next

Set Baru LEGO 10299 Real Madrid Santiago Bernabéu Stadium